Oleh Jurnalis Lutfia
Di balik gersangnya perbukitan Kedewan, tersimpan sebuah rahasia besar dari masa silam yang bukanlah soal cadangan minyak, melainkan keberadaan Kuburan Kalang—sebuah komplek pemakaman kuno yang menjembatani zaman Megalitik hingga era kejayaan Majapahit.
Terletak di Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, situs ini bukan sekedar tumpukan batu semata. Terdapat lebih dari 100 peti kubur batu yang tersebar di sembilan titik berbeda, yang “bersembunyi” di lereng bukit Sumur 70 serta kawasan tandus Gunung Mas. Ukuran peti kubur batu tersebut bervariasi, mulai dari standar 1 x 2 meter hingga ukuran raksasa 3 x 1,5 meter, dengan kedalaman sekitar 60 sentimeter. Apa yang tersimpan di dalamnya sempat mengejutkan para arkeolog.
Pada ekskavasi yang dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 1997, ditemukan berbagai bekal kubur mewah pada zamannya, antara lain manik-manik indah, gelang perak untuk tangan dan kaki, senjata tajam berupa golok, serta gerabah halus. Hal yang menarik, tengkorak manusia yang ditemukan di situs tersebut selalu menghadap ke arah timur. Secara simbolis, arah Timur-Barat ini bermakna kelahiran dan kematian—sebuah filosofi tentang kelahiran kembali setelah kehidupan berakhir.
Nama “Kawengan” sendiri diduga memiliki latar belakang sejarah yang penting. Arkeolog melihat kemiripan dengan desa lama bernama Kawangen, sebuah desa perdikan (sima) yang tercatat dalam Prasasti Canggu tahun 1358 M. Dalam prasasti tersebut, desa ini dikenal sebagai tempat penyeberangan (panambangan) penting di sepanjang aliran Bengawan Solo. Hal ini memperkuat dugaan bahwa komunitas “Wong Kalang” di masa lalu adalah masyarakat yang cerdas dalam memanfaatkan transportasi air dan memiliki peran penting dalam struktur ekonomi kerajaan.
Sayangnya, nasib situs bersejarah ini cukup memprihatinkan. Sekitar 30 tahun lalu, banyak batu peti kubur diambil warga untuk bahan bangunan karena ketidaktahuan. Saat ini, sisa-sisa peradaban ini berjuang melawan waktu, terkikis alam, dan tertutup semak belukar di tengah hutan seluas 15 hektar.
Bagi pecinta sejarah dan petualangan, menelusuri seluruh titik Kubur Kalang membutuhkan waktu sekitar setengah hari. Meskipun jalurnya menantang, pengalaman melihat langsung jejak manusia prasejarah yang terus berlanjut hingga masa Hindu Buddha merupakan perjalanan spiritual yang tiada duanya. Untuk mereka yang tertarik mengunjungi wisata sejarah tersembunyi ini, disarankan untuk membawa pemandu lokal karena lokasinya yang cukup tersebar di area hutan.

